Donnerstag, 21. Februar 2013

Studi dan kehidupan di jerman


 


Kuliah di jerman mungkin adalah mimpi setiap anak di Indonesia, begitu juga dengan saya, sejak kecil saya sudah bercita-cita untuk bersekolah di negara tempat pak habibie menempuh pendidikannya. seiring perjalanan impian itu seakan luntur mengingat saya hanya bersekolah di sebuah kota kecil di ujung provinsi kalimantan selatan. ditambah saat saya mengikuti tes-tes masuk universitas di indonesia tidak ada satupun universitas yang menerima saya, bahkan saya juga ditolak oleh universitas di daerah saya sendiri.
harapan itu kembali datang ketika salah seorang teman ibu saya memberi tahu bahwa ada kesempatan untuk kuliah di jerman lewat salah satu agen. Karena mahalnya biaya jika menggunakan agen,saya mencoba mencari jalan lain tanpa agen, Alhamdulillah setelah saya cari,kemungkinan berangkat tanpa agen itu ada walaupun lebih sulit.
Karena untuk mendaftar universitas di jerman dibutuhkan sertifikat bahasa jerman tinglat menengah, saya mengikuti kursus bahasa jerman terlebih dahulu di salah satu kursus bahasa jerman di surabaya. saat kursus bahasa jerman inilah saya mencari-cari info tentang studi di jerman dan mendaftar universitas di jerman. Harus diakui tanpa agen memang lebih repot tapi saya bisa menghemat banyak uang dan bisa belajar untuk mandiri.
 Dari indonesia saya hanya mengirim 2 formulir pendaftaran, saya mendaftar di hannover dan saarbrücken,salah satu kota yang berdekatan dg prancis. Sebenarnya di Saarbrücken saya sudah diterima tanpa tes,tapi surat kelulusanya terlambat  datang sehingga ketika surat saya terima waktu pendaftaran ulang sudah habis. Itu berarti Hannover adalah satu-satunya kota harapan saya untuk mengikuti tes masuk. dengan undangan yang saya terima dari universitas di hannover saya bisa mengurus visa untuk berangkat ke jerman.


Sampai di Jerman

Saya menginjakkan kaki pertama di jerman di kota berlin,disana saya dijemput oleh salah satu teman yang juga berasal dari Banjarmasin. Saat itu di jerman sedang musim dingin, tapi Alhamdulillah sejak dari indonesia saya sudah mempersiapkan pakaian musim dingin sehingga itu bukan masalah besar buat saya.
 Kota tujuan saya sebenarnya adalah Hannover, sebuah kota yang tidak terlalu besar yang berada 300 km arah barat berlin.
di Hannover rencananya saya akan mengikuti tes  masuk Studienkolleg atau Aufnahmetest dalam bahasa jerman. Studienkolleg adalah sebuah institusi pendidikan sebelum masuk universitas yang sebenarnya. Setiap calon mahasiswa asing yang di negara asalnya memiliki jangka waktu pendidikan kurang dari 13 tahun harus terlebih dahulu masuk ke studienkolleg ini sebelum melaksanakan studi di universitas sebenarnya, karena di Jerman jangka waktu pendidikan dasarnya adalah 13 tahun, sedangkan kita tahu di Indonesia kita hanya butuh 12 tahun sampai lulus SMA, sehingga setiap calon mahasiswa dari indonesia harus menempuh pendidikan 1 tahun terlebih dahulu di Studienkolleg.


Hannover

Hannover adalah sebuah kota di sebelah utara jerman di negara bagian Niedersachsen, walaupun tidak terlalu besar kota ini sangat nyaman dan bersih. Kota ini dijuluki kota pameran (Messe) karena banyaknya pameran internasional yang diselenggarakan disana. Saya berangkat dari Berlin ke Hannover menggunakan kereta cepat IC, jarak 300 km hanya ditempuh selama 2,5 jam. Sesampainya Hannover saya dijemput oleh seorang mahasiswa indonesia yg menempuh pendidikan SMA di Turki dan dijerman bergabung dg salah satu organisasi turki. Selama 2 bulan saya tinggal 1 apartement dengan mahasiswa itu dan orang-orang turki. Saya disambut dengan sangat ramah oleh orang-orang turki itu. Setiap hari saya bisa menikmati masakan turki karena di apartement ini kami punya peraturan untuk masak bergantian setiap hari,karena untuk makan diluar biaya yang dikeluarkan cukup besar. 
saya cukup kaget ketika saya shalat berjama'ah bersama mereka karena tata cara shalatnya agak berbeda,sebagian besar orang turki mengikuti madzhab imam hanafi,sedangkan kebanyakan orang indonesia mengikuti madzhab imam syafi'i.
Saya juga cukup kaget ketika mengetahui banyak orang turki yang tidak bisa membaca Al-Qur'an,ternyata di pemerintahan Presiden turki yang terdahulu,presiden attaturk,pelajaran agama dan segala sesuatu yang berkaitan dg agama dilarang di sekolah-sekolah dan institusi-institusi pemerintahan,karena paham yag dianut oleh Attaturk adalah sekuler. Hal ini sangat disayangkan karena rakyat turki lah yang jadi korban.
Saya juga melaksanakan shalat jum'at di masjid turki, sayang sekali disana khutbahnya hanya berbahasa turki. Komunitas turki di jerman cukup banyak, ini dikarenakan dahulu banyak pekerja dan buruh yang diambil dari turki dan sebagian besar dari mereka akhirnya menetap di jerman.


Studienkolleg

Setelah beberapa hari di Hannover akhirnya saya mengikuti tes masuk Studienkolleg. Pelajaran yang dites adalah bahasa jerman dan matematika. Bahasa jerman merupakan momok bagi sebagian besar calon mahasiswa indonesia tak terkecuali saya,tapi Alhamdulillah saya bisa melalui tes dengan baik dan diterima di Studienkolleg Hannover.
Beberapa hari setelah pengumuman saya mulai masuk Studienkolleg, di angkatan saya ada 3 orang indonesia,dan kebanyakan berasal dari Vietnam,Libanon,dan negara-negara amerika latin.
Di Studienkolleg terdapat 3 jurusan utama,sesuai dengan jurusan universitas yang hendak diambil, yaitu Tekhnik, ekonomi, dan kedokteran. Jadi misalnya kita hendak kuliah di jurusan tekhnik elektro,maka kita harus masuk Studienkolleg jurusan tekhnik.
Pelajaran di Studienkolleg hampir sama dengan pelajaran SMA di Indonesia,hanya semuanya dalam bahasa jerman dan ada pelajaran bahasa jerman juga. Studienkolleg ini sangat  bermanfaat karena kita mempelajari istilah-istilah tekhnik,ekonomi,maupun kedokteran (Fachbegriff) yang tidak kami dapatkan di kursus bahasa.
Kesulitan utama saya di studienkolleg adalah bahasa jerman,karena untuk bahasa jerman memang butuh penyesuaian dan rata-rata teman-teman saya di studienkolleg sudah lebih lama berada di jerman. Tapi bukan berarti pada pelajaran lain tidak butuh penyesuaian, di Sekolah-sekolah jerman lebih ditekankan konsep dasar, jadi para pelajar dituntut untuk memahami apa dasar dari sebuah teori dan untuk apa kita mempelajarinya. Berbeda dengan di Indonesia yang setiap pelajar hanya dituntut untuk sekedar bisa mengerjakan soal-soal ujian tanpa peduli apakah konsep dasar dari pelajaran itu dimengerti atau tidak.
Mungkin untuk mengerjakan soal-soal sulit mungkin pelajar-pelajar dari indonesia lebih ahli,tapi ketika ditanya konsep dasarnya kebanyakan pelajar indonesia tidak mengerti.


Komunitas muslim di Hannover

Selama beberapa minggu saya hanya bergaul dengan orang-orang turki dan hanya pergi ke masjid turki karena tidak tahu masjid yang lain. Sampai akhirnya setelah shalat Jum'at saya bertemu dengan salah seorang orang indonesia yang sudah sangat senior di Hannover. Saya sempat mengobrol dengan beliau sampai akhirnya beliau silaturahmi ke apartment saya. 
Setelah itu beliau sering mengundang saya untuk silaturahmi ke apartemen beliau, sambil bersosialisasi dengan mahasiswa-mahasiswa indonesia yang lainnya,karena apartemen itu ditinggali oleh mahasiswa-mahasiswa dari indonesia. Di Hannover terdapat organisasi non resmi untuk komunitas muslim Indonesia bernama KMH (Keluarga Muslim Hannover). KMH menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti pengajian (pemuda,ibu-ibu, dan bapak-bapak), buka puasa bersama saat ramadhan,sampai perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Saya juga diperkenalkan dengan masjid-masjid lain selain masjid turki. Disana ada masjid yang mayoritasnya orang arab dan ada juga masjid jerman yang jaraknya hanya 100 meter dari masjid arab,yang kebanyakan orang jerman maupun imigran yang lahir dan besar di jerman pergi ke masjid itu karena ceramah dan khutbah di masjid itu berbahasa jerman. Itu juga sangat membantu untuk saya karena saya bisa mengerti apa isi ceramah dan khutbah yang disampaikan dan untuk memperlancar bahasa jerman saya juga.


Beristiqamah di negara non muslim

Beberapa bulan kemudian saya memutuskan untuk pindah ke apartemen orang-orang indonesia itu karena ada slot kamar yang kosong dan apartemen itu letaknya sangat dekat dengan Studienkolleg, hanya 5 menit bersepeda atau 15 menit jalan kaki, jauh lebih dekat dibandingkan apartemen lama saya yang harus ditempuh lebih dari setengah jam menggunakan trem dan bus untuk pergi ke Studienkolleg. Dengan begitu di Studienkolleg saya tidak usah repot-repot mencari tempat shalat karena bisa langsung pulang ke rumah tanpa menghabiskan waktu. Kalau waktu tidak mencukupi saya harus shalat di Studienkolleg. Karena tidak ada tempat khusus untuk shalat, awal-awalnya saya shalat di kelas,walaupun kadang-kadang dilihat oleh dosen saya cuek saja, dan Alhamdulillah saya tidak pernah ditegur, tapi setelah beberapa lama saya mencari tempat shalat baru, saya shalat diatas meja di ruang bawah tanah atau dibawah tangga yang tidak terlihat oleh orang. Alhamdulillah apartemen saya yang baru juga tidak terlalu jauh dari masjid yang sering saya kunjungi, hanya 12 menit menggunakan kereta bawah tanah (U-Bahn). Di masjid jerman itu ada ceramah rutin tiap minggu berbahasa jerman, dan kadang-kadang mahasiswa Universitas Islam Madinah asal jerman juga mengisi pengajian disana ketika mereka berlibur di jerman.
Makanan halal sebenarnya juga tidak sulit ditemukan di Hannover. Ada banyak toko dan restoran turki yang menjual makanan halal. Makanan khas turki yang sangat umum di jerman adalah Döner Kebab, bahkan di kalangan orang jerman pun Döner Kebab ini popularitasnya menyaingi Mc Donalds atau Burger King, karena rasanya yang enak, porsi yang besar, dan harga yang cukup bersaing. Tapi untuk mahasiswa indonesia seperti saya terlalu besar biayanya jika harus makan di luar setiap hari. Saya biasanya membeli ayam atau daging di toko halal turki dan memasaknya sendiri di rumah. Saya bisa menghemat banyak jika setiap hari masak sendiri di rumah. Untuk membeli makanan di supermarket umum masyarakat muslim harus memperhatikan komposisi yang terkandung di dalam makanan yang akan kita beli. Karena salah-salah ada kandungan babi atau alkohol di dalam makanan yang kita beli, yang paling umum adalah gelatin, karena gelatin disini diproduksi dari lemak babi. Untuk itu sudah ada list kandungan berbahaya, jadi kita bisa cek apakah makanan itu halal atau tidak.


Prestasi di Studienkolleg dan memilih universitas

Alhamdulillah semester pertama saya di Studienkolleg bisa dilalui dengan cukup baik, meskipun bahasa jerman saya waktu itu masih tergolong biasa-biasa saja, satu-satunya nilai 3 (C) saya dapatkan di pelajaran bahasa jerman (indeks nilai di Eropa adalah 1-5, 1 adalah nilai terbaik (A), dan 5 adalah nilai paling jelek (E),sedangkan standar kelulusan adalah 4 (D) ). Memasuki semester kedua saya mendapat informasi bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dari perusahaan-perusahaan jerman. Itu adalah salah satu program khas di jerman bernama duales Studium, dimana mahasiswa dikontrak oleh perusahaan jerman untuk menjalankan studinya paralel dengan internship/magang di perusahaan tersebut, dan untuk itu para mahasiswa diberi beasiswa oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Mendengar kabar itu saya tertarik dan berambisi untuk memanfaatkan kesempatan tersebut, walaupun itu tidak mudah karena saya harus bersaing dengan siswa-siswa jerman yang memiliki kemampuan bahasa jerman yang jauh lebih bagus. Lamaran-lamaran pun dikirim ke perusahaan-perusahaan dari Airbus sampai Mercedes, sembari berusaha keras meningkatkan kemampuan bahasa jerman dengan menonton berita, membaca koran, sampai mendengarkan ceramah berbahasa jerman. Saya juga berlatih mengerjakan soal-soal matematika dan psikotest karena itu adalah bahan-bahan yang akan diujiankan seandainya saya dipanggil untuk mengikuti tes. Surat-surat balasan pun datang, sebagian besar adalah surat penolakan karena mungkin saya berkewarganegaraan asing dan belum memiliki ijazah dari sekolah di jerman. Tapi tidak jarang ada surat panggilan tes tertulis, seperti dari perusahaan VW, British Petroleum (BP), Siemens, Continental, dll. Saya pun bersemangat untuk mengikuti tes-tes itu, walaupun kadang harus pergi jauh ke luar kota. Dari tes-tes yang saya ikuti,Alhamdulillah sebagian besar dapat saya lalui dengan baik dan mendapatkan panggilan untuk tes interview. Tes interview ini merupakan tantangan terberat karena bahasa jerman saya yang belum sempurna. Dan benar saja, saya gagal di semua tes interview. Sejak saat itu saya hampir menyerah dan memilih berkonsentrasi dengan ujian akhir di Studienkolleg (Feststellungsprüfung). Liburan natal saya isi dengan belajar untuk mempersiapkan ujian, saya biasa belajar berkelompok di perpustakaan dengan teman-teman yang berasal dari arab, vietnam, maupun indonesia. Alhamdulillah perjuangan saya membuahkan hasil, di hampir semua pelajaran saya mendapatkan nilai 1(A), termasuk bahasa jerman yang awal-awalnya menjadi momok buat saja, hanya pada pelajaran kimia saya mendapatkan nilai 1,5 (AB). Dan dengan itu Alhamdulillah saya meraih nilai tertinggi di Studienkolleg.


Masuk Universitas

Karena duales Studium yang saya impikan belum juga didapat, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Fachhochschule Hannover jurusan Maschinenbau (teknik mesin). Di jerman ada 2 jenis universitas, yaitu Universität dan Fachhochschule. Bedanya adalah di Universität lebih ditekankan pada teori, jadi pembahasannya sebagian besar hanya teoritis. Sedangkan di Fachhochschule lebih ditekankan ke praktek, jadi teorinya dikurangi tapi langsung dikaitkan dengan praktek di dunia kerja.
Kuliah pun dimulai, mahasiswa di jurusan saya berjumlah sekitar 100 orang, jumlah yang cukup banyak untuk Fachhochschule. Pada semester pertama ini saya memiliki 7 mata kuliah, yaitu Mathematik(matematika),Physik (Fisika), Elektrotechnik (teknik elektro), Werkstoffkunde (Pelajaran tentang bahan dan material logam), Konstruksionslehre (teknik konstruksi), Chemie (kimia) dan Mechanik (mekanik). Alhamdulillah saya tidak terlalu kaget dengan mata kuliah yang diberikan di semester pertama karena sebagian sudah pernah dipelajari di Studienkolleg, apalagi di SMA saya dulu ada pelajaran menggambar konstruksi jadi minimal saya sudah ada sedikit bekal untuk menerima mata kuliah di jurusan teknik mesin. Werkstoffkunde adalah satu-satunya mata kuliah yang saya belum punya basic di pelajaran tersebut.
Universitas saya ditempuh sekitar 20 menit menggunakan trem, kereta, atau bus. Yang menjadi kelebihan utama universitas-universitas di jerman dibandingkan universitas di Indonesia adalah fasilitasnya, disini setiap universitas memiliki alat-alat yang lengkap dan modern untuk mendukung proses belajar mengajar. Dan kebanyakan universitas memiliki kerjasama aktif dengan perusahaan. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara universitas dan perusahaan, di satu sisi Universitas mendapat dana dari perusahaan, dan  Dan mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Misalnya untuk yang tertarik di dunia otomotif di FH Hannover ada club gokart dan dilombakan nasional, dari perancangan mobil sampai pilot dikerjakan sendiri oleh mahasiswa.
Di sela-sela waktu kuliah saya menyempatkan diri untuk bekerja part time, dari menjadi tukang parkir sampai bekerja sebagai buruh di Mercedes. Kadang-kadang saya sampai harus mengorbankan waktu kuliah saya untuk bekerja. Tapi Alhamdulillah untuk semester pertama itu tidak menjadi masalah besar. Bahkan sehari sebelum ujian saya masih harus bekerja dan setelah ujian harus kembali berangkat bekerja lagi. Tapi Alhamdulillah ujiannya bisa saya lalui dengan baik, bahkan Alhamdulillah saya mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran Matematika dan Fisika.



Bekerja part time di jerman

Pada tahun pertama saya di jerman mencari pekerjaan sambilan bukanlah hal yang mudah, selain bahasa yang masih pas-pasan, umur saya waktu itu tidak mencukupi untuk bekerja, saat itu saya masih berumur 16 tahun dan usia minimal untuk bekerja adalah 18 tahun. Selama beberapa bulan saya belum mendapatkan pekerjaan. Sampai akhirnya ada teman yang menawarkan pekerjaan yang sangat simpel, administrasinya mudah, dan dengan upah yang lumayan, yaitu penghitung mobil. Mungkin kedengarannya aneh tapi itu adalah pekerjaan yang ditawarkan oleh suatu kontraktor untuk mensurvey berapa jumlah mobil yang lewat di jalan tol (Autobahn), jadi tugas saya hanya menghitung mobil yang lewat. Hanya dengan membawa alat hitung dan seragam kerja saya dan teman-teman akhirnya berangkat bekerja,kami biasanya duduk diatas jembatan atau dibawah jembatan untuk menghitung mobil yang lewat. Bayaran kami saat itu adalah 10 Euro/jam (sekitar 130 ribu rupiah), cukup besar jika dibandingkan dengan kesulitan pekerjaan itu.
Setelah itu saya mencoba mendaftarkan diri untuk menjadi tukang parkir di pameran internasional. Alhamdulillah saya diterima untuk bekerja disana. Menjadi tukang parkir juga merupakan pekerjaan yang lumayan mudah, kita hanya disuruh mengarahkan mobil yang masuk atau menjual tiket, dan harga satu tiket parkir lumayan mahal, 8 Euro (sekitar 100 ribu rupiah) per mobil. Bayaran yang saya terima juga lumayan besar, 9 Euro/jam. Plus kami juga bisa mendapatkan tip (Trinkgeld) dari pengunjung yang dermawan, waktu itu saya pernah mendapat tip sampai 13 Euro dalam sehari. Tantangan yang kami hadapi adalah kami harus bekerja di musim dingin di suhu minus, buat saya yang belmu terbiasa dangan suhu dingin itu adalah tantangan yang sangat berat. Walaupun sudah memakai sarung tangan dan kaos kaki berlapis tetap saja tangan dan kaki saya terasa beku, karena harus di luar selama berjam-jam.
Saya juga sempat bekerja di hall pameran berskala kecil. Disana saya bekerja sebagai penyusun sekat pameran, tukang parkir, sekaligus menyapu ruangan pameran. Walaupun agak berat dan medapat gaji lebih kecil, saya senang bekerja disana karena teman-teman saya sangat ramah dan saya biasanya bekerja pada hari sabtu dan minggu sehingga tidak mengganggu waktu kuliah.
Saya juga sempat mendaftarkan diri sebagai buruh di Mercedes. Alhamdulillah saya diterima dan mendapat kontrak kerja selama 4 bulan. Saya harus bekerja selama 18 jam per minggu, jadi saya bekerja 6 jam perhari dan 3 hari per minggu. Pekerjaan itu saya lakukan dari jam 4 sore sampai jam 10 malam. Saya mendapatkan gaji sekitar 700 Euro per bulan (sekitar 9 juta rupiah). Pekerjaan ini sangat baik untuk mahasiswa seperti saya karena tidak mengganggu waktu kuliah dan gaji yang diterima cukup besar, walaupun di masa ujian saya harus tetap bekerja karena tidak mendapatkan libur.



Diterima Duales Studium dan mendapatkan beasiswa

Saat saya sedang bekerja di Mercedes tiba-tiba saya mendapat telepon dari Berlin, ternyata itu adalah Siemens Berlin dan mereka meberi tahu bahwa saya diterima di Duales Studium di Siemens dan mendapatkan beasiswa. Perasaan saya saat itu sangat senang, akhirnya impian saya tercapai. Dan itu di Berlin, kota yang saya impikan. Saya diterima di jurusan Electrical Engineering, berbeda dari jurusan yang sedang saya jalani di Hannover. Jurusan Electrical Engineering memang sedang sangat dibutuhkan oleh industri jerman saat ini, sehingga banyak perusaan yang menawarkan Duales Studium untuk jurusan ini.
Akhirnya saya pun pindah ke Berlin, saya ditemani teman-teman pengajian saya dari Hannover sambil membawa barang-barang yang cukup banyak. Sangat berat untuk meninggalkan Hannover, karena saya sudah betah disana dan banyak pengalaman dan kenangan yang saya dapatkan disana. Tapi saya yakin insyaAllah di Berlin akan ada banyak pengalaman baru yang akan saya dapatkan.
Alhamdulillah di Berlin ada banyak orang indonesia, dan saya dibantu untuk mendapatkan tempat tinggal sementara. Di Berlin juga ada masjid Indonesia, keberadaan masjid ini sangat penting untuk menjalin komunikasi dan ukhuwah antar orang indonesia di Berlin. Disana rutin diadakan pengajian, TPA, dan juga acara-acara lainnya.
Duales Studium di Siemens pun dimulai. Duales Studium di Siemens ini agak berbeda dengan sistem study yang lain. Siemens memiliki akademi pendidikan sendiri yang bernama Siemens Technik Akademie. Mahasiswa Duales Studium di Siemens mengenyam pendidikan selama dua tahun di Siemens Technik Akadiemi ini, setelah itu lanjut ke Universitas normal milik pemerintah yang ada di Berlin, di Universitas/FH ini kami akan melanjutkan pendidikan selama 2 tahun, dan setiap semester ada fase praktek dimana kita harus bekerja di salah satu divisi di Siemens. Ini adalah bentuk kerjasama antara Siemens dengan universitas di Berlin. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa karena kami bisa mempraktekkan teori yang telah kami pelajari di Universitas langsung di dunia kerja.
Di Siemens Technik Akademie bahasa pengantar untuk semua palajaran adalah bahasa inggris, dan selain belajar pelajaran normal kuliah, softskill kami juga dilatih. Kami dilatih bagaimana menjalankan presentasi dengan baik, dan segala hal yang kami butuhkan di dunia kerja. Selain itu kami juga mempelajari alat-alat yang digunakan di industri.



Berlin

Berlin adalah sebuah kota di sebelah timur laut jerman. Dulunya Berlin terpecah menjadi 2 bagian, Berlin barat dan Berlin timur. Berlin barat termasuk ke Jerman barat dan Berlin barat termasuk ke Jerman timur yang dinamakan DDR, DDR adalah negara sosialis Jerman bentukan Hitler. Walaupun secara geografis Berlin masuk ke Jerman timur. Kota ini sangat multikultural, banyak imigran asing yang tinggal disana, terutama dari Turki dan negara-negara Arab. Dan kota ini cukup besar jika dibandingkan dengan kota-kota jerman lainnya. Kota ini cukup terkenal dengan wisatanya dan merupakan kota yang paling sering dikunjungi wisatawan di Eropa.
Menurut saya kota ini sangat bersahabat untuk orang-orang asing seperti kami, kota ini banyak dihuni oleh orang asing, banyak pilihan makanan halal, dan banyak terdapat masjid. Selain itu biaya hidup di Berlin terhitung paling murah jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Eropa. Bahkan biaya hidup di Berlin hampir sama dengan biaya hidup di Jakarta, tentunya tergantung dengan gaya hidup. Untuk gaya hidup sederhana mahasiswa seperti saya, dibutuhkan biaya hidup sekitar 500 Euro per Bulan, sudah termasuk biaya kuliah. Biaya kuliah di Berlin sangat murah, kami hanya membayar sekitar 280 Euro per Semester (sekitar 3,5 Juta), itu sudah termasuk biaya transport untuk bus dan kereta, yang kalau tiketnya dibeli terpisah untuk penduduk normal jauh lebih mahal.
Ada banyak universitas terkenal di Berlin. Untuk Universität ada Technische Universität (TU) Berlin, Freie Universität (FU) Berlin, Humboldt Universität (HU) Berlin, dan Charite Universität. TU Berlin lebih khusus ke jurusan-jurusan teknik seperti teknik mesin, elektro, dll. Kalau FU dan HU lebih ke jurusan MIPA, hukum, maupun filsafat. Sedangkan Charite khusus untuk jurusan kedokteran. Sedangkan untuk Fachhochschule (University for applied sciences) ada Hochschule für Technik und Wirtschaft (HTW) Berlin dan Beuth Hochschule Berlin. Kebanyakan orang indonesia kuliah di HTW dan TU Berlin. Sedangkan saya sendiri kuliah di Beuth Hochschule.



Kehidupan Beragama di Berlin

Berlin merupakan kota yang banyak dihuni oleh imigran asing, terutama turki dan negara-negara arab seperti suriah, palestina, atau maroko. Karena itu komunitas muslim di Berlin pun cukup banyak. Menuurut data terkini ada sekitar 150 masjid di Berlin. Itu merupakan angka yang cukup fantastis mengingat di kota lain seperti Hannover hanya terdapat 30 masjid. Di setiap sudut kota terdapat makanan khas Turki yaiut Döner Kebap, yang tentunya halal. Selain itu banyak juga terdapat restoran-restoran arab yang menyediakan makanan halal. Toko-toko bahan makanan yang menyediakan daging halal pun sangat banyak. Toko-toko ini kebanyakan dikelola oleh orang-orang turki dan mereka mempunyai cabang yang sangat banyak. Karena itu kita tidak perlu khawatir untuk tidak bisa mendapatkan makanan halal di Berlin karena di kota ini makanan halal sangat mudah didapatkan.
Sebagian besar orang jerman tidak mempercayai agama, áda yang sama sekali tidak mengakui adanya tuhan (atheis) dan ada juga yang mengakui adanya tuhan tapi tidak mempercayai agama (agnostik). Walaupun menurut data statistik mayoritas orang jerman beragama katolik, tapi sebenarnya terutama untuk kalangan muda sudah tidak mempercayai agama lagi, mereka tidak pernah datang ke gereja lagi. Jadi kebanyakan orang jerman adalah katolik/kristen KTP. Bahkan ada banyak yang menyatakan diri keluar dari gereja karena tidak mau membayar pajak gereja. Banyak orang jerman berpendapat agama merupakan hal yang konyol, di gereja mereka tidak bisa mendapatkan jawaban-jawaban atas pertanyaan mereka dan di dalam Bibel banyak kejanggalan dan kontradiksi yang tidak bisa mereka pahami. Ditambah dengan kondisi ekonomi yang sangat berkecukupan, sehingga seolah-olah mereka "tidak butuh" agama lagi. Berlin merupakan kota yang jumlah atheisnya sangat banyak. Lebih banyak dibandingkan kota-kota jerman selatan seperti München, yang sebagian masyarakatnya masih mempertahankan ajaran katolik mereka.
Banyak juga orang jerman yang ingin mengisi "dahaga" spiritual mereka. Banyak dari mereka yang membaca-baca buku tentang agama lain dan  membanding-bandingkannya. Ada yang tertarik ke ajaran buddha, karena mereka anggap mereka bisa menenangkan diri dengan meditasi dsb. Dan tidak sedikit dari mereka yang tertarik ke ajaran Islam setelah mereka membaca Al-Qur'an. Mereka terus memikirkan apakah tujuan dari hidup ini dan apakah benar ada tuhan, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut mereka temukan di Al-Qur'an. Mereka menganggap Islam mempunyai konsep ketuhanan yang benar, seperti tuhan hanya ada satu,mempunyai kekuasaan absolut dan tidak bisa disamakan dengan manusia. Dan Al-Qur'an juga salah satu bukti yang sangat kuat, karena tidak ada kejanggalan dan kontradiksi yang mereka temukan di Al-Qur'an dan tidak ada perbedaan antara Al-Quran satu dan Al-Quran lainya, yang tidak mereka temukan di kitab-kitab di agama lain. Dan akhirnya mereka pun memeluk islam. Bahkan dari kejadian 11 September banyak orang jerman yang penasaran dengan Islam, dan akhirnya masuk islam.
Sesampainya di Berlin saya pun berusaha mencari dan mengunjungi masjid-masjid yang ada di Berlin, sampai akhirnya saya menemukan masjid yang sangat menarik untuk saya karena di masjid ini sunnah-sunnah sangat hidup dan ada banyak pengajian yang diselenggarakan, dan pengajian yang diadakan hampir semuanya berbahasa jerman sehingga memudahkan saya untuk memahami isi kajiannya. Di masjid ini terdapat banyak muallaf-muallaf jerman yang ingin mendalami ilmu agama mereka. Dari situ saya juga berinteraksi dengan para muallaf maupun orang-orang keturunan arab yang rutin mendatangi masjid tersebut. Yang juga membuat saya senang, ternyata universitas saya sangat dekat dengan masjid itu.
Seiring berjalannya waktu saya pun mencari kamar tetap untuk saya karena kamar yang saya tinggali sekarang hanya untuk beberapa bulan saja. Alhamdulillah melalui bantuan salah satu orang indonesia yang sudah lama tinggal di Berlin saya mendapatkan flat yang lokasinya cukup strategis. Tepat di bawah flat saya ada toko indonesia, tidak jauh dari sana ada masjid indonesia, dan universitas dan masjid yang sering saya kunjungi letaknya juga tidak jauh dari flat saya. Di flat itu saya tinggal bersama mahasiswa-mahasiswa dari indonesia.



Kisah Para Muallaf
Di Berlin saya banyak berinteraksi dengan para muallaf. Mereka pun menceritakan bagaimana perjalanan spiritual mereka menjadi seorang muslim.  Inilah beberapa pengalaman saya dengan para muallaf jerman, walaupun ini hanya sedikit dari kisah-kisah muallaf jerman yang jumlahnya sangat banyak.

Ibrahim
Muallaf pertama yang saya kenal dekat bernama Ibrahim, nama dia sebelum menjadi muallaf adalah Deniz Kabatas. Dia adalah seorang pemuda keturunan Jerman-Turki. Ibunya adalah orang asli jerman sedangkan ayahnya adalah orang turki. Ayahnya mengikuti sekte alawi (yang menurut Ulama sekte ini bukan lagi muslim), sehingga Ibrahim pun tidak dibesarkan sebagai seorang muslim. Dia hidup sebagaimana pemuda jerman lainnya, yang sering pergi ke diskotek, minum-minum, berinteraksi dengan perempuan, dan tidak mengenal agama. Karena ibunya juga seorang ateis maka dia hampir tidak mengenal agama. Sampai pada suatu saat dimana Ibrahim akhirnya muak dengan apa yang dia lakukan selama ini dan memikirkan tujuan hidup sebenarnya. Diapun membaca buku-buku tentang islam dan bertanya-tanya kepada teman dia yang beragama Islam, diapun tertarik dengan islam, bahkan dia ikut berpuasa walaupun die belum menjadi seorang muslim.
Setahun kemudian akhirnya dia pun mantap menjadi seorang muslim, hari itu bertepatan dengan awal ramadhan sehingga dia pun langsung ikut berpuasa. Dia mengatakan itu adalah hari yang sangat istimewa bagi dia ketia dia memeluk islam, dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya, saat dimana dia "menemukan" siapa tuhannya dan menemukan jalan yang lurus.
Ibrahim pun sangat bersemangat mempelajari agama Islam. Dalam satu tahun sangat banyak ilmu-ilmu yang dia pelajari, dalam waktu satu tahun dia bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar dan mengerti sebagian kata-kata yang ada dalam Al-Qur'an dan hafal surah-surah yang cukup panjang. Harus saya katakan sebagian ilmunya bahkan lebih banyak dibandingkan sebagian besar pemuda indonesia yang dibesarkan dengan pendidikan islam. Saya pun malu terhadap diri saya sendiri, saya dibesarkan di keluarga muslim dan dididik dengan pendidikan islam tapi ilmu dan amalan saya masih bisa dibilang kalah dengan orang yang baru satu tahun memeluk islam. Saya sering mengikuti kajian dan belajar bahasa arab bersama Ibrahim. Diapun mengajak saya ke rumah dia kerumahnya untuk mengenalkan saya dengan ibunya, dia berharap ibunya bisa menerima kondisi dia sebagai muslim. Ibrahim pun berusaha meyakinkan ibunya untuk juga masuk Islam, mulai dari berdakwah secara lisan, sampai menghadiahi buku-buku.
Berbeda dengan ayahnya, walaupun ayah Ibrahim orang turki tapi dia sangat marah jika Ibrahim pergi ke masjid dan belajar agama. Ibrahim selalu dihalang-halangi untuk menjalankan agamanya. Sampai pada suatu saat mereka liburan bersama di Turki, dan itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sesampainya di Turki ibrahim dipaksa untuk tidak berpuasa dan dipaksa untuk menikmati kehidupan gemerlap di turki. Dia dipaksa sarapan walaupun dia sangat ingin berpuasa dan diajak ke pantai. Dia pun tidak diperbolehkan pergi ke masjid. Terkadang ibrahim mencuri-curi waktu untuk pergi ke masjid dan melaksanakan shalat tarawih. Walapun resikonya jika dia ketahuan bakal sampai dipukuli oleh ayahnya. Waktu-waktu itu adalah waktu yang sangat suram baginya.
Sesampainya di Berlin dia merasakan nikmat yang tak terhingga karena dia bisa kembali pergi ke masjid lagi. Walaupun ayahnya melarangnya untuk pergi ke masjid tertentu, dia tetap berusaha untuk istiqamah sambil berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan ayah dan keluarganya. Kita harus bersyukur karena kita memiliki keluarga yang islami dan tidak ada hambatan untuk menjalankan agama dengan baik.

Abdullah
Abdullah, nama aslinya Moritz Menzel, adalah seorang pemuda asli jerman, bahkan masih ada darah yahudi dari neneknya, umurnya baru 18 tahun dan sudah hampir 2 tahun memeluk Islam. Di umur yang sangat belia, 16 tahun, dia mulai memikirkan apa sebenarnya jalan hidup dan tujuan hidup yang benar, dan bagaimana konsep ketuhanan yang sebenarnya. Dia disekolahkan di sekolah katolik namun sepertinya dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam hatinya.
Dia berusaha mencari-cari informasi, sampai akhirnya dia menemukan video-video dakwah dai Pierre Vogel. Pierre Vogel adalah mantan boxer asli jerman yang menjadi muallaf, dia lalu mempelajari Islam di berbagai negara muslim seperti Mesir dan Saudi Arabia. Dia pun kembali ke jerman dan menjadi da'i, dia banyak melakukan da'wah dengan berbagai cara, dari berda'wah diatas panggung, di jalanan, dan membuat video-video di Youtube. Abdullah pun tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Pierre Vogel tentang islam dan konsep ketuhanan dalam Islam. Abdullah sangat terkesima ketika dia membaca surah Al-Ikhlas, karena surah ini sarat dengan konsep ketauhidan. Di surah Al-Ikhlas tercantum bahwa Allah itu hanya satu, tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan Allah. Ini sangat berbeda dengan apa yang dia pelajari di sekolahnya tentang konsep trinitas, yang menurutnya tidak bisa membedakan antara manusia dengan tuhan.
Waktu pun berlalu dan Abdullah pun belajar intensif tentang islam. Semuanya dia lakukan atas kesadaran dirinya sendiri akan kebutuhan rohani dan kewajiban untuk menuntut ilmu. Dalam satu tahun banyak peningkatan drastis yang dia lakukan, dia sudah mengenal kuat dasar-dasar aqidah agama, yang sayangnya sebagian besar anak muda indonesia bahkan tidak tahu menahu tentang konsep dasar aqidah yang benar ini. Dia juga sudah bisa lancar membaca Al-Qur'an dan hafal surah-surah yang cukup panjang. Bahkan di Ramadhan pertamanya dia hampir khatam membaca Al-Qur'an. Berpuasa lebih dari 18 jam pun dia lalui dengan baik,walaupun itu sangat berat bagi dia karena dia belum terbiasa.
Abdullah tinggal di Brandenburg yang bersebelahan dengan Berlin. Di Brandenburg Abdullah tidak menemukan masjid, sehingga dia harus pergi ke berlin yang memakan waktu hingga 1 jam. Tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk mempelajari dan menjalankan agama. Bahkan dia tetap mengusahakan untuk selalu shalat fardhu di masjid, walaupun kadang-kadang dia baru kembali sampai di rumah jam 5 pagi. Dia rela menginap di kamar saya untuk menunggu shalat subuh berjama'ah yang kalau di muslim panas shalat subuh dilaksanakan pada jam 3 pagi. Terkadang kami juga tidur bersama-sama di masjid.
Dia juga aktif berdakwah, baik ke sesama muslim maupun ke orang-orang non muslim. Abdullah aktif membagikan brosur-brosur ,seperti brosur tentang pentingnya berhijab dan bagaimana hijab yang benar kepada muslimah-muslimah yang ada di berlin. Dia juga aktif berdakwah kepada teman-teman di sekolah dia. Alhamdulillah dia tidak mendapat tentangan berarti dari keluarganya, meskipun ada beberapa hal yang masih harus dia lakukan sembunyi sembunyi.


Abdurrahim
Abdurrahim adalah muallaf yang baru saja saya kenal, baru masuk islam sekitar setangah tahun yang lalu. Dia adalah seorang pemuda asli jerman. Abdurrahim dulunya adalah seorang pecandu narkoba, kehidupan barat yang bebas membuat hidupnya tidak teratur tanpa tujuan. Sampai akhirnya dia memutuskan berhenti untuk menggunakan narkoba. Akhirnya dia pun berhasil keluar dari belenggu candu narkoba. Abdurrahim pun lalu memikirkan apa sebenarnya tujuan dari hidup ini, untuk apa kita hidup. Dia pun mencari-cari jawaban atas pertanyaan itu dan akhirnya pertanyaan itu dia temukan di Al-Qur'an.
Abdurrahim pun memutuskan untuk masuk islam, pada awal dia memeluk islam,karena ketidaktahuannya dia pergi ke salah satu masjid Syi'ah yang ada di Berlin, dia pun memulai belajar Islam disana. Tapi lama-kelamaan Abdurrahim merasa ada yang janggal di masjid itu dan dia pun memutuskan mencari-cari informasi di masjid lain. Akhirnya dia menemukan masjid yang sangat kental sunnahnya, dia pun mulai belajar di masjid itu dan merasa nyaman di masjid itu. Sampai akhirnya dia tahu bahwa syi'ah adalah sekte yang sesat. Dan memutuskan untuk tidak pergi ke masjid syi'ah itu lagi.
Abdurrahim pun semangat mempelajari islam dan selalu datang ke pengajian. Dia terlihat masih membutuhkan dukungan, tapi Alhamdulillah ikhwan-ikhwan yang ada di masjid senantiasa mendukungnya dan membantunya.


Yang kita bisa ambil pelajaran dari para muallaf ini adalah bahwa mereka mempelajari dan menjalankan agama ini dengan keyakinan yang sangat kuat, bahwa hanya ada satu tuhan yang menguasai semuanya dan kita manusia tidak memiliki kekuatan apapun. Mereka sangat yakin akan konsep ketuhanan ini, jika Allah mengambil sedikit saja nikmatnya maka kita tidak bisa bebuat apa-apa. Yang harus direnungkan, Allah telah memberikan segalanya, membolehkan kita bernafas, memberi rezki, betapa sombongnya kita jika kita enggan melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Pelajaran selanjutnya adalah pentingnya mencari ilmu, kita mengaku cinta kepada Allah tapi apakah kita mengenal bagiamana sifat-sifat Allah sebenarnya? Dan apa yang sebenarnya Allah inginkan dari kita? Kalau kita tidak mengerti akan hal ini bagaimana kita akan bisa menjalankan perintah-Nya dengan benar dan dengan keyakinan yang kuat?
Para muallaf ini sangat memperhatikan sunnah-sunnah rasulullah, sampai dalam hal menyikat gigi dengan siwak, memanjangkan jenggot, isbal, semua mereka lakukan karena keyakinannya atas perintah Allah dan Rasulnya. Harus saya katakan mereka jauh lebih "islami" dibandingkan kebanyakan orang yang dilahirkan di lingkungan islam.

Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen